Aji, Penekun Naskah Lontar Lombok
MASYARAKAT etnis Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, memiliki tradisi membaca naskah lontar (memaos) maupun bekayat (semacam tradisi di ranah Melayu). Adanya grup membaca tulisan beraksara Jejawan-turunan aksara Hanacaraka-memperkuat adanya kebiasaan tersebut, sekaligus mengindikasikan usaha pelestariannya secara berkesinambungan. Dalam konteks itu, peran Risaji (Aji) alias Amak Misti (60) tidak bisa disepelekan.
KEPEDULIANNYA terhadap masa depan kesenian, khususnya seni baca naskah lontar, tidak diragukan lagi. "Adat istiadat dan kesenian yang ditinggalkan leluhur kami, jangan punah setelah saya dipanggil Tuhan," ujar warga RT 1 Dusun Mapak Dasan, Desa Kuranji, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Seingat Aji ada 30 pemuda di RT-nya yang kini bisa baca dan tulis huruf Jejawan, termasuk seorang putrinya, Misti, yang kerap mengikuti lomba memaos yang diselenggarakan oleh beberapa instansi pemerintah di Mataram.
Kemudian tiga orang kini menjadi pembayun (juru bicara dalam acara sorong-serah aji krama atau prosesi adat perkawinan suku Sasak). Tidak terhitung banyaknya warga dusun/desa lain berguru kepada Aji yang dengan tangan terbuka dan gratis menurunkan keahliannya.
Meski demikian, jangan harap Aji menawarkan jasanya karena khawatir dianggap sombong.
"Saya mau, yang datang belajar, termasuk anak-anak di kampung, atas kemauan sendiri. Dengan kemauan ini, saya berharap mereka mengajar anak dan cucunya kelak sehingga pelestarian kesenian berjalan terus," katanya.
Berdasarkan pengalaman pribadinya saat diajar oleh ayahnya, almarhum Amak Sahrim, Aji harus belajar mengenali dan menghafal dulu bentuk huruf sebelum bisa membaca dan mengartikan bahasa Jawa Kuno. Hal itu memerlukan ketekunan, semangat, dan latihan rutin. "Jangan sampai pada tahap awal, ada keluhan macam-macam…," begitu pesan Aji.
Dalam seni memaos-awalnya berkembang di kalangan bangsawan-syair cerita dalam takepan (naskah lontar) dilagukan lewat tembang secara berkelompok. Mereka masing-masing bertugas selaku pemaca (pembaca), pujangga (penerjemah, pengulas, penafsir), dan penyokong (pendukung vokal). Irama tembang berupa durma, sinom, pangkur, dangdang, maskumambang, dan smarandana. Berbeda dengan tradisi bekayat-berkembang di daerah pesisir umumnya- yang memakai aksara Arab-Melayu atau Latin sehingga lebih mudah dimengerti dan dipelajari.
DI samping menurunkan pengetahuan dan keterampilannya, Aji juga mengarang tembang dalam Bahasa Jawa Kuno maupun Bahasa Sasak, yang sudah tidak diingatnya lagi jumlahnya. Hanya satu atau dua karyanya yang diingatnya, seperti tembang "Peringatan Nenek Si’ Kuase Sili" (Peringatan Tuhan yang Memiliki Kekuasaan untuk Marah), "Seni dait Budaye" (Seni dan Budaya), "Adat Game Merarik Care Sasak" (Adat Perkawinan Sasak dalam Perspektif Islam), yang berbahasa Jawa Kuno dan aksara Jejawan.
Syair-syair yang disusun menjadi sebuah cerita dalam bentuk durma, sinom, pangkur, dangdang, maskumambang, dan smarandana bisa diselesaikan satu hari penuh, sementara orang lain memerlukan waktu minimal 20-30 hari.
Aji pun membuat puluhan lawas (lagu) berbahasa Sasak, satu di antaranya berjudul "Reres Daun" (memotong daun), menggambarkan tata krama muda-mudi yang mengukuhkan hubungannya dalam ikatan perkawinan. Begini syairnya, reres daun sepelapak/ jaran lima timuk puyung/ bares-laun gamak kakak/ tanggal lima nde’ kuburung (memotong daun sepelapah/ kuda lima di timur (desa) puyung/ sekaranglah waktunya kak/ tanggal lima aku bersedia (untuk dinikahi-Red). Lawas ini bisa dimainkan dengan instrumen gamelan dan cukup dikenal oleh kalangan seniman seni tabuh.
Dalam usia senjanya Aji masih suka menghadiri undangan memaos dari warga di luar desa, guna meramaikan acara perkawinan dan khitanan, atau ikut lomba memaos di Mataram.
"Mendapat juara bukanlah tujuan saya ikut lomba, tetapi saya mau tunjukkan kepada yang muda-muda bahwa berkesenian tidak dibatasi usia," ungkap lulusan sekolah rakyat (SR) tiga tahun.
Sikap itu juga ditunjukkannya dengan keikutsertaannya selaku sekaha (anggota) grup gamelan Gendang Belek di kampungnya. Meski dianggap "suhu" oleh sekaha lainnya yang umumnya anak muda, tetapi tidak jarang Aji dimarahi karena keliru memukul instrumen yang bisa merusak harmoni irama gending secara keseluruhan. Reaksinya, "Saya cuma tertawa atau diam karena saya memang salah," ujar mantan Kepala Dusun Dasan Mapak (1962-1970) itu.
Mau mengakui kesalahan, punya pijakan yang jelas dalam berkesenian, dan ikhlas membagi ilmu agaknya menjadi kekayaan Aji selama ini. Totalitas seperti itu terlihat dari kehidupan ekonominya. Ayah dari enam anak ini tinggal di kampung padat penduduk, yang merupakan batas Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Biaya hidupnya kini ditanggung oleh anaknya yang berjualan barang kelontong di kampung atau yang mencari nafkah sebagai buruh tani.
Memang ada tanah peninggalan orangtuanya, seluas 20 are, yang harus dibagi dengan lima orang saudaranya. Lahan itu digarap secara bergantian dengan saudaranya maupun para kemenakannya yang orangtuanya sudah meninggal.
Rumahnya yang kini ditempati anak- anaknya amat sederhana, berdinding bedek yang di antaranya ada "ditambal" dengan kelansah (anyaman bambu), beratap jerami. Di antara rumah itu tersedia berugak (bale-bale), di mana Aji mengisi harinya. Di salah satu ujung bale-bale itu tergantung papan tulis hitam pemberian sahabatnya yang kemudian dipakai saat mengajar "murid-murid"-nya.
Di bagian dalam atap berugak itu terselip deretan kertas bertuliskan aksara Latin berbahasa Jawa Kuno. Tulisan di kertas dikutip dari sejumlah takepan yang menjadi koleksi pribadinya. Naskah Cilinaya, Rengganis, Indar Jaya, Monyeh, Puspakarma, Asmaragama, dan Kayat Nur adalah koleksinya yang tersisa. Puluhan lainnya rusak dan hurufnya tidak bisa dibaca akibat sistem penyimpanan yang tidak baik. Naskah yang rusak itu kemudian dimusnahkan dengan cara ditanam.
Kepahitan hidup Aji mungkin terasa manis oleh munculnya generasi muda yang akan melanjutkan jejaknya secara konkret. (KHAERUL ANWAR)