dengan sasak nyengken nowong

KUASA da sida Allah si ubah sekutika ruen muen Siti Zulaiha si lenge jari solah-inges, mones-meneng marak kesolah bintang sinetron Sofia Latjuba, atawa kelus awak ne si keresut, kurus-gulem jari montok, putik-mulus marak kelus Inul, si ratu goyang ngebor…, paut gati dait kegantengan Nabi Yusuf alaihissalam, lebih ganteng dait Presiden SBY….

(Dengan kekuasaan Allah, maka wajah Siti Zulaiha yang semula tidak cantik berubah menjadi elok-rupawan seperti bintang sinetron Sofia Latjuba. Kulitnya yang semula kurus-keriput menjadi montok berisi seperti Inul, si ratu goyang ngebor. Sangat pantas dengan calon suaminya, Nabi Yusuf, yang tampan seperti Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).

Kalimat berbahasa Sasak, Lombok, itu keluar dari mulut M Bakri, selaku penerjemah, Lomba Pepaosan dan Pembacaan Hikayat. Bakri bersama Horiah (Pembaca) dan Rahman (Sarup = pendukung vokal) adalah Grup Baca Hikayat Beriuk Tinjal Desa Teratak, Lombok Tengah, salah satu penampil terbaik lomba itu yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram, menyambut Hari Ulang Tahun RRI ke 59, 2 Oktober lalu di Mataram.

Menurut Kepala Cabang Muda RRI Mataram, Kabul Budiono, lomba memaos dan bekayat adalah misi RRI selaku lembaga penyiaran publik, sebagai upaya pelestarian seni budaya daerah yang bernilai luhur dan penyeimbang masuknya arus budaya pop yang cenderung melupakan kearifan budaya lokal.

Wakil Gubernur NTB Bonyo Tamrin Rayes mengemukakan, di provinsi yang terdiri atas Pulau Lombok dan Sumbawa itu terdapat sentuhan kultur dari beragam etnik dan komunitas. Ini memberi warna budaya dan seni, seperti pengaruh etnik budaya Jawa-Bali dan napas-napas dakwah Islam. Buktinya, kesenian khas Lombok terdapat sentuhan ritme dan atraksi bernuansa Jawa-Bali (naskah lontar). Tidak dimungkiri pula ada nuansa Islam yang kental (pada bekayat). Itu menunjukkan masyarakat NTB terbuka menerima budaya dan kesenian dari berbagai wilayah budaya.

Dari 35 grup pemaos dan 14 grup bekayat, masing-masing terpilih lima peserta penampil terbaik. Mereka berhak atas uang pembinaan Rp 200.000 per grup yang disediakan Gubernur NTB, Drs H Lalu Serinata. Yang agak "khusus" dari lomba ini adalah adanya peserta kaum perempuan selaku pembaca naskah dan syair hikayat. Lazimnya selama ini tradisi membaca itu didominasi lelaki.

TRADISI memaos dan nyaer–-semacam tradisi membaca di daerah Melayu–-sudah merakyat di Lombok. Warga kampung di Kota Mataram dan Lombok Barat, misalnya, biasa mengundang grup bekayat (sebutan ini populer di Lombok Barat) atau nyaer (di Lombok Tengah dan Lombok Timur), umumnya sebulan sebelum Puasa.

Materi cerita yang dibacakan berupa kisah-kisah perjalanan dan kehidupan para Nabi beserta sahabat dan pembantunya seperti Hikayat Nabi (qisasul anbiya) macam Kisah Nabi Yusuf, Ali Hanafiah, Qamaruzzaman, Siti Zubaidah, saer kubur, Nabi Haparas, Bulan Belah. Tradisi itu umumnya dibawakan guna memeriahkan ibu yang hamil tujuh bulan, khitanan, ngurisang (potong rambut), Maulid dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW menghadap Allah ke langit (sidratul muntaha).

Bahasa pengantar hikayat itu adalah bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab gundul. Misalnya Kisah Nabi Yusuf yang memperistri Siti Zulaiha: …Maka ketika itu datanglah Jibril, lalu disapunya muka Zulaiha dengan daun sidratul muntaha, hingga jadilah rupanya berlebih elok daripada dahulu kala, bercahya-cahya, gilang gemilang, bersinar-sinar dipandang orang, penyakitnya pun hilang sekutika…

Kapan tradisi nyaer itu berkembang di Lombok belumlah pasti, meski ada yang bilang tradisi itu muncul ketika kerajaan di semenanjung Melayu merebak ke Nusantara sekitar abad ke-16 dan ke-17 untuk menyebarkan Islam. Penyebaran Islam itu umumnya lewat pesisir dan sasarannya pada rakyat jelata. Masyarakat awam di Lombok menyebut kalangan yang berbicara dengan bahasa Indonesia sebagai "berbahasa melayu", mungkin berasal dari amat populernya tradisi bekayat yang syairnya berbentuk prosa liris itu.

Agak berbeda dengan tradisi memaos, yang bahan bacaannya dari naskah lontar (takepan) dan berbahasa Jawa Kuno. "Jika bekayat mengandung spirit Islam dan kelas bawah, spirit memaos pada budaya dan nilai Jawa yang beradaptasi dengan budaya lokal, dan sasarannya lebih pada tingkat kaum bangsawan," papar M Yamin, pemerhati Budaya Sasak.

Di masa lampau memaos umumnya berkembang di daerah pedaleman (tempat tinggal para bangsawan), dibaca di atas berugak (bale-bale yang disebut pepaosan). Karena lebih eksklusif, peminat baca naskah ini lebih sedikit dibanding bekayat. Apalagi bahasa dan aksaranya lebih sulit dibaca dan diartikan mengingat naskah lontar berupa aksara jejawan/turunan hanacaraka, disampaikan dalam bentuk tembang (dilagukan) berirama durma, sinom, pangkur, dangdang, maskumambang dan smarandana.

Syair itu disampaikan kepada khalayak pendengar secara berkelompok (tiga orang) masing-masing bertugas selaku pemaca (pembaca), pujangga (penerjemah), pengulas (penafsir) dan penyokong (pendukung vokal). Karena pengaruh lokal, banyak pula naskah lontar disalin para penulis di Lombok dengan napas Islam.

Sebutlah almarhum Haji Lalu Ambawa, warga Penujak, Lombok Tengah, bahkan membuat buku Sembaga Sejarah Agama Budaya. Isinya berupa intisari Takepan Puspakarma Asmaragama, dikaitkan dengan ajaran Islam (dalam Al Quran dan Hadis).

Oleh karena itu, Lombok disebut-sebut sebagai "‘laboratorium konservasi" naskah Jawa Kuno yang bernapaskan Islam, seperti masyarakat Bali selaku pelestari naskah Jawa Kuno yang bernapaskan Hindu. Pakar sastra Zoetmoelder pun mengakui, Lombok merupakan salah satu sumber terbesar koleksi perpustakaan Universitas Negeri Leiden, Belanda. (rul)