Lombok di KompasApril 4, 2007 7:51 am

Lombok dari SatelitKalau nama Mataram, setidaknya sudah ada dalam benak kami. Tapi Lombok sambil menggelengkan kepala, Dato Tengku Putra Tengkung Awang, Timbalan Menteri Perbendaharaan Kerajaan Malaysia, mengatakan kepada Kompas saat acara makan malam rombongan promosi pariwisata di Nusa Tenggara Barat.

Agaknya nama Pulau Lombok apalagi etnis Sasak sebagai penduduk asli pulau itu tidak tercatat dalam benak warga Malaysia pada umumnya. Dari pejabat hingga warga biasa, Lombok mungkin adalah negeri antah-berantah. Kalangan tertentu lebih mengenal Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB saat ini.

Mataram yang dikenal Yang Berhormat Dato Tengku Putra malah bukan nama kota yang ada di Pulau Lombok tadi. Bagi Dato Tengku Putra, Mataram yang ia kenal adalah nama sebuah kerajaan di Pulau Jawa, yang pada abad ke-11 dan 12 kemasyhurannya terekam sampai negeri seberang, bahkan dijadikan salah satu materi pendidikan tingkat sekolah menengah pertama di sana.

Sejarah masa silam Lombok dan etnis Sasak belum terungkap secara jelas. Keringnya referensi dan belum adanya penelitian ilmiah tentang Lombok, boleh jadi penyebab jejak tapak sejarah Lombok tidak banyak diketahui. Wajar bila Solichin Salam dalam buku Lombok Pulau Perawan menuliskan, Tidak begitu banyak dapat diketahui mengenai Lombok sebelum abad ke-17.

Referensi yang ada berupa cuplikan, legenda, mitos, dan naskah lontar yang tentunya masih perlu dikaji secara ilmiah. Namun, dari bukti-bukti etnografi yang sederhana, temuan barang-barang dan situs-situs arkeologis di beberapa tempat mungkin bisa jadi gambaran sepintas keberadaan etnis Sasak.

Misalnya hasil pantauan awal Nasruddin dan Dubel Driwantoro, keduanya arkeolog bidang prasejarah pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, yang menemukan artefak paleolitik (900.000 tahun lalu) di Desa Sengkere, Desa Pelambek, Lombok Tengah, 24 Februari 2000. Temuan itu berupa subfosil tulang kering (tibia) kerbau purba, serut tipe tapal kuda, kapak berimbas, kapak penetak, peralatan serpih, dan lainnya dengan bahan batuan basal dan marmer. Tinggalan sumber daya arkeologis itu tergolong tua, diduga dari masa plestosen atas dan tengah (400.000-100.000 tahun lalu).

Sebelumnya, tahun 1976, dari hasil ekskavasi di Gunung Piring, Desa Teruwai, Lombok Tengah, ditemukan sejumlah peralatan untuk prosesi pemakaman dan tulang paha yang hidup pada abad ke-4 Masehi. Alat itu antara lain sebuah kendi diletakkan pada bagian kaki jasad manusia yang dikuburkan itu.

Kemudian, pada abad ke-5 hingga abad ke-6 terjadi gelombang migrasi dari Pulau Jawa ke Bali terus ke Lombok, menyusul runtuhnya Kerajaan Daha dan Kalingga. Dari penelitian Rulof Goris, dikatakan bahwa alat transportasi laut yang dipakai menyeberang oleh para migran dari dan ke Lombok disebut sak-sak (rakit bambu). Mendalami kata itu pula, A Teeuw ahli sastra Indonesia dari Belanda menduga kata sasak muncul dari kebiasaan masyarakat Lombok masa itu yang memakai ikat kepala berbahan tembasak (kain putih). Bisa jadi sasak itu diambil dari suku kata terakhir tembasak: sak. Lewat proses pengulangan, bentuk sak-sak lalu jadi sasak.

Sak-Sak..ngelombokSak-sak dalam bahasa Sasak bermakna apa pun, atau bisa diterjemahkan bahwa apa pun yang menyatu, tumbuh dan berkembang adalah milik dan identitas bersama guna membangun komunitas kultural. Ini bukti kesadaran plural atau multikultural telah tumbuh sejak dini di Lombok, kata M Yamin, pemerhati budaya Sasak.

Tampaknya, senada dengan JCHaar pengamat pertenunan Lombok tahun 1925, bahwa Sasak tumbuh dari etnis yang majemuk, baik kependudukan, agama, ras yang datang menetap dari kawasan barat dan timur. AR Walace mengatakan, orang Sasak dapat dikelompokkan sebagai turunan Melayu.

Indikasi itu disebutkan Ahmad JD pemerhati budaya Sasak lainnya ”dengan adanya Kampung Jawa, Kampung Banjar, Kampung Melayu, atau Kampung Arab yang berada di kota-kota provinsi/kabupaten di Pulau Lombok, selain Kampung Manggarai (kini Desa Kerumut Pohgading, Lombok Timur), Kampung Tanjung Luar (Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, dominan penduduknya suku Bajo, Salayar), Kampung Pemenang (nama desa dan kecamatan di Lombok Barat). Para penghuninya kini melebur menjadi orang Sasak-Lombok, walau mereka masih mempertahankan beberapa aspek tanah leluhur-nya.

Sejak abad ke-11

Sekitar abad ke-11, sebuah tong-tong perunggu berangka tahun 1077 Masehi ditemukan di Desa Pujungan, Tabanan, Bali, yang ditulis setelah kekuasaan Raja Anak Wungsu di Bali. Nekara itu bertuliskan huruf kuadrat berbunyi Sasak Dana Prihan Srih Jaya Nira, yang artinya bahwa benda ini adalah pemberian dari orang-orang Sasak. Artinya, nama Sasak dan Lombok sudah ada jauh sebelum abad ke-11, atau setidaknya sudah dikenal secara tertulis pada abad ke-11.

Pada abad ke-14, ekspedisi Kerajaan Majapahit yang menguasai seluruh Nusantara tampaknya singgah pula di Lombok. Dalam buku Negarakretagama karya Mpu Prapanca disebut, Lombok Mirah Sasak Adinikalun. Diduga itu sebutan untuk pulau dan etnis di sana. Adanya Pedewa di Gunung Pujut, Lombok Tengah, sekelompok orang di Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, yang mengaku keturunan Majapahit, adalah gambaran kedatangan rombongan dari kerajaan pimpinan Raja Hayam Wuruk itu.

Adanya pertunjukan wayang lelendong (wayang kulit) dan wayang wong (orang), perangkat gamelan berupa gendang, kemong, gong di Lombok seperti dikenal di Jawa dan Bali diduga oleh Parimartha, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana, merupakan menebarnya pengaruh Jawa (Majapahit) di Lombok. Mengacu pendapat Goris, Parimartha mengatakan, pengaruh Jawa masuk Lombok tahun 1350-1500 Masehi.

Kedatangan para migran yang disertai infiltrasi agama Syiwa-Buddha dan Hindu-Buddha ke Lombok, mungkin karena keberadaan atau mitos Gunung Rinjani (kini tingginya 3.726 meter) yang dianggap tempat suci. Rinjani yang dikuasai tokoh abadi Dewi Anjani, bersama Agung di Bali dan Semeru (Jatim) adalah wujud serpihan Gunung Himalaya di India. Semeru adalah bagian dasarnya, Agung bagian tengah, dan Rinjani puncaknya. Karenanya, bila ada upacara di Pura Besakih, Bali, harus ada tirta dari tiga gunung itu sebagai syarat peranti acara.

Setelah itu Kerajaan Karangasem menguasai Pulau Lombok (1691-1894), disusul Belanda dan Jepang, yang kemudian memengaruhi kehidupan sosial politik, sosial budaya, tradisi, kesenian, arsitektur hingga sektor agraris, selain persoalan sosial terhadap penduduk lokal. Misalnya, istilah keliang (di tingkat dusun atau gubug), pembekel (kepala desa), punggawa (camat), selaku pembantu raja, adalah model birokrasi yang dikembangkan pihak kerajaan masa itu.

tetaplah sudah kau disanaBangunan sosial budaya, politik dan lainnya itu mungkin membuat rakyat lokal terpinggirkan oleh berbagai tekanan dari pemerintah masa itu. Sebab, mereka hanyalah abdi dalem, yang manut dan patuh menjalankan titah sang penguasa. Dalam kehidupan serba tertekan, rakyat diam-diam membangun solidaritas dan partisipasi dalam lingkungan komunalnya untuk bertahan hidup.

Tetapi sudahlah, itulah sejarah yang mestinya dipahami dan diakui sebagai perjalanan sebuah puak. Kini terpulang kepada jajaran pemerintah dan masyarakat di Lombok untuk mau belajar dari sejarah, sebagai acuan sekaligus alat kontrol menghadapi dan menyiasati arus deras peradaban modern yang penuh paradoks.

Lombok di KompasDecember 10, 2006 6:48 am

dengan sasak nyengken nowong

KUASA da sida Allah si ubah sekutika ruen muen Siti Zulaiha si lenge jari solah-inges, mones-meneng marak kesolah bintang sinetron Sofia Latjuba, atawa kelus awak ne si keresut, kurus-gulem jari montok, putik-mulus marak kelus Inul, si ratu goyang ngebor…, paut gati dait kegantengan Nabi Yusuf alaihissalam, lebih ganteng dait Presiden SBY….

(Dengan kekuasaan Allah, maka wajah Siti Zulaiha yang semula tidak cantik berubah menjadi elok-rupawan seperti bintang sinetron Sofia Latjuba. Kulitnya yang semula kurus-keriput menjadi montok berisi seperti Inul, si ratu goyang ngebor. Sangat pantas dengan calon suaminya, Nabi Yusuf, yang tampan seperti Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono).

Kalimat berbahasa Sasak, Lombok, itu keluar dari mulut M Bakri, selaku penerjemah, Lomba Pepaosan dan Pembacaan Hikayat. Bakri bersama Horiah (Pembaca) dan Rahman (Sarup = pendukung vokal) adalah Grup Baca Hikayat Beriuk Tinjal Desa Teratak, Lombok Tengah, salah satu penampil terbaik lomba itu yang diselenggarakan Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram, menyambut Hari Ulang Tahun RRI ke 59, 2 Oktober lalu di Mataram.

Menurut Kepala Cabang Muda RRI Mataram, Kabul Budiono, lomba memaos dan bekayat adalah misi RRI selaku lembaga penyiaran publik, sebagai upaya pelestarian seni budaya daerah yang bernilai luhur dan penyeimbang masuknya arus budaya pop yang cenderung melupakan kearifan budaya lokal.

Wakil Gubernur NTB Bonyo Tamrin Rayes mengemukakan, di provinsi yang terdiri atas Pulau Lombok dan Sumbawa itu terdapat sentuhan kultur dari beragam etnik dan komunitas. Ini memberi warna budaya dan seni, seperti pengaruh etnik budaya Jawa-Bali dan napas-napas dakwah Islam. Buktinya, kesenian khas Lombok terdapat sentuhan ritme dan atraksi bernuansa Jawa-Bali (naskah lontar). Tidak dimungkiri pula ada nuansa Islam yang kental (pada bekayat). Itu menunjukkan masyarakat NTB terbuka menerima budaya dan kesenian dari berbagai wilayah budaya.

Dari 35 grup pemaos dan 14 grup bekayat, masing-masing terpilih lima peserta penampil terbaik. Mereka berhak atas uang pembinaan Rp 200.000 per grup yang disediakan Gubernur NTB, Drs H Lalu Serinata. Yang agak "khusus" dari lomba ini adalah adanya peserta kaum perempuan selaku pembaca naskah dan syair hikayat. Lazimnya selama ini tradisi membaca itu didominasi lelaki.

TRADISI memaos dan nyaer–-semacam tradisi membaca di daerah Melayu–-sudah merakyat di Lombok. Warga kampung di Kota Mataram dan Lombok Barat, misalnya, biasa mengundang grup bekayat (sebutan ini populer di Lombok Barat) atau nyaer (di Lombok Tengah dan Lombok Timur), umumnya sebulan sebelum Puasa.

Materi cerita yang dibacakan berupa kisah-kisah perjalanan dan kehidupan para Nabi beserta sahabat dan pembantunya seperti Hikayat Nabi (qisasul anbiya) macam Kisah Nabi Yusuf, Ali Hanafiah, Qamaruzzaman, Siti Zubaidah, saer kubur, Nabi Haparas, Bulan Belah. Tradisi itu umumnya dibawakan guna memeriahkan ibu yang hamil tujuh bulan, khitanan, ngurisang (potong rambut), Maulid dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW menghadap Allah ke langit (sidratul muntaha).

Bahasa pengantar hikayat itu adalah bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara Arab gundul. Misalnya Kisah Nabi Yusuf yang memperistri Siti Zulaiha: …Maka ketika itu datanglah Jibril, lalu disapunya muka Zulaiha dengan daun sidratul muntaha, hingga jadilah rupanya berlebih elok daripada dahulu kala, bercahya-cahya, gilang gemilang, bersinar-sinar dipandang orang, penyakitnya pun hilang sekutika…

Kapan tradisi nyaer itu berkembang di Lombok belumlah pasti, meski ada yang bilang tradisi itu muncul ketika kerajaan di semenanjung Melayu merebak ke Nusantara sekitar abad ke-16 dan ke-17 untuk menyebarkan Islam. Penyebaran Islam itu umumnya lewat pesisir dan sasarannya pada rakyat jelata. Masyarakat awam di Lombok menyebut kalangan yang berbicara dengan bahasa Indonesia sebagai "berbahasa melayu", mungkin berasal dari amat populernya tradisi bekayat yang syairnya berbentuk prosa liris itu.

Agak berbeda dengan tradisi memaos, yang bahan bacaannya dari naskah lontar (takepan) dan berbahasa Jawa Kuno. "Jika bekayat mengandung spirit Islam dan kelas bawah, spirit memaos pada budaya dan nilai Jawa yang beradaptasi dengan budaya lokal, dan sasarannya lebih pada tingkat kaum bangsawan," papar M Yamin, pemerhati Budaya Sasak.

Di masa lampau memaos umumnya berkembang di daerah pedaleman (tempat tinggal para bangsawan), dibaca di atas berugak (bale-bale yang disebut pepaosan). Karena lebih eksklusif, peminat baca naskah ini lebih sedikit dibanding bekayat. Apalagi bahasa dan aksaranya lebih sulit dibaca dan diartikan mengingat naskah lontar berupa aksara jejawan/turunan hanacaraka, disampaikan dalam bentuk tembang (dilagukan) berirama durma, sinom, pangkur, dangdang, maskumambang dan smarandana.

Syair itu disampaikan kepada khalayak pendengar secara berkelompok (tiga orang) masing-masing bertugas selaku pemaca (pembaca), pujangga (penerjemah), pengulas (penafsir) dan penyokong (pendukung vokal). Karena pengaruh lokal, banyak pula naskah lontar disalin para penulis di Lombok dengan napas Islam.

Sebutlah almarhum Haji Lalu Ambawa, warga Penujak, Lombok Tengah, bahkan membuat buku Sembaga Sejarah Agama Budaya. Isinya berupa intisari Takepan Puspakarma Asmaragama, dikaitkan dengan ajaran Islam (dalam Al Quran dan Hadis).

Oleh karena itu, Lombok disebut-sebut sebagai "‘laboratorium konservasi" naskah Jawa Kuno yang bernapaskan Islam, seperti masyarakat Bali selaku pelestari naskah Jawa Kuno yang bernapaskan Hindu. Pakar sastra Zoetmoelder pun mengakui, Lombok merupakan salah satu sumber terbesar koleksi perpustakaan Universitas Negeri Leiden, Belanda. (rul)

 

 

Lombok di Kompas 6:43 am

Dedare dan sawah

Secara geografis, Pulau Lombok dan Pulau Bali memang terpisah. Batasnya jelas. Selat Lombok, yang membentang di sepanjang pesisir barat Pulau Lombok atau di pesisir timur Pulau Bali, menghubungkan kedua pulau kecil di wilayah Nusa Tenggara ini. Tetapi, dari sisi sejarah dan budaya, keduanya memiliki kedekatan khusus yang menjadikan Lombok dan Bali seperti dua saudara sekandung. Bahkan, sampai muncul istilah, ”di Lombok kita bisa menemukan Bali”.

Kedekatan budaya Bali dan Lombok memang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kedua pulau bertetangga ini. Diawali dengan masuknya pengaruh paham Siwa-Buddha dari Pulau Jawa yang dibawa para migran dari kerajaan-kerajaan Jawa sekitar abad ke-5 dan ke-6 Masehi, sampai infiltrasi Kerajaan Hindu Majapahit yang mengenalkan ajaran Hindu-Buddha ke penjuru timur wilayah Nusantara pada abad ke-7 M.

Sejumlah penanda masih terlihat jelas hingga saat ini. Di sejumlah tempat di Pulau Lombok dan Bali terdapat nama-nama desa yang mengadopsi nama tempat di Jawa. Sebut saja, Kediri, Pajang, ataupun Mataram, yang kini menjadi nama ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kedekatan sejarah dan budaya penduduk kedua pulau ini menjadi lebih kental pada masa kejayaan Kerajaan Karangasem di Pulau Bali sekitar abad ke-17 M, yang menjadikan Lombok sebagai hinterland-nya Karangasem.

Pendatang asal Bali yang bermigrasi ke Lombok pada zaman kerajaan itu memanggil penduduk Sasak dengan sebutan semeton, yang berarti saudara. Sebaliknya, terhadap warga Bali dan etnis non-Sasak lainnya, masyarakat Sasak memberikan panggilan hormat, batur, yang berarti sahabat. Batur Bali berarti sahabat dari Bali, Batur Jawa bermakna sahabat dari Jawa.

Bahasa Bali-Lombok

Salah satu kedekatan budaya antara Lombok dan Bali lainnya adalah bahasa. Sebelum ramai didatangi beragam etnis, Pulau Lombok sudah dihuni masyarakat Sasak yang disebut sebagai penduduk asli. Ragam bahasa antara Lombok dan Bali hampir serupa, sama-sama bersumber dari bahasa Kawi dengan aksara Jawa Kuno.

”Huruf aksara Sasak dan Bali 100 persen sama, hanacaraka-nya berjumlah 18. Ini berbeda dengan aksara di Jawa yang lebih banyak dua aksara. Bedanya, penulisan aksara Sasak lebih tegas dibanding aksara Bali,” ujar pemerhati budaya Sasak, I Gde Mandia, kepada tim Lintas Timur-Barat di Mataram, Minggu (23/10).

Begitu juga dalam teknik pencatatan. Tradisi menulis di daun lontar dilakukan pujangga dan sastrawan di Bali dan Lombok. Teknik ini dilanjutkan dengan tradisi membaca naskah sastra, pepawosan dalam budaya Sasak dan mabebawos dalam budaya Bali.

Kedekatan kultural itu dimanifestasikan pula dalam kehidupan beragama. Meskipun kini mayoritas masyarakat Sasak menganut agama Islam, namun dalam sekelompok kecil dari mereka masih menjalankan tradisi Watu Telu tersebut yang kemudian dikenal penganut Islam Watu Telu.

”Agama Tirta, yang berkembang menjadi agama Hindu, dan Watu Telu merupakan kepercayaan yang hampir sama, baik dari bentuk pemujaan maupun sarananya, yang disebut kemalik atau semacam tugu pemujaan,” kata Mandia. ”Ketika Islam semakin berkembang di Lombok, perlahan kemalik ini menghilang karena para penggrembe atau pemeluk kepercayaan itu beralih menjadi Muslim,” ujar mantan Kepala Taman Budaya Mataram ini.

”Di beberapa pura, kemalik ini masih ada dan disebut sebagai pelinggih kemalik, seperti di Pura Lingsar, Pura Suranadi, juga di Medaing dan Narmada,” lanjut Mandia.

Dalam ritual upacara masyarakat Hindu di Lombok dikenal tradisi melantunkan tembang Turun Taun saat berlangsungnya upacara sakral memohon turunnya hujan. Upacara ini digelar di pura setempat menjelang datangnya musim tanam.

Meskipun dilantunkan masyarakat Hindu, ragam bahasa dan lagunya jelas menunjukkan pengaruh Sasak, ditambah beberapa sisipan kata-kata bernuansa Islam. Sebait lagu ini, misalnya, Turun Taun Leq Gedong Sari//Mumbul Katon Suarge Mulie//Langan Dee Sida Allah Nurunang Sari//Sarin Merta Sarin Sedana, yang intinya kira-kira bermakna semoga Tuhan segera menurunkan hujan sebagai inti kebahagiaan.

Kata sangkaq dan kembeq (kenapa), lasingan, timaq (walau), aro (ah), kelaq moto (sayur bening), dalam bahasa Sasak, kata Mandia, antara lain juga diadopsi sebagai percakapan sehari-hari masyarakat Bali di Lombok.

Akulturasi kearifan

Akulturasi budaya antara penduduk lokal dan Bali serta Jawa juga terlihat dalam busana dan tradisi masyarakat. Misalnya, ikat kepala, yang dalam tata busana adat Sasak disebut sapuk (dipakai pria), mirip dengan destar dalam busana Bali.

Kebiasaan nebon, suami yang membiarkan rambutnya gondrong selama sang istri hamil, dikenal dalam tradisi Sasak dan Lombok. Rambut sang suami baru dipotong setelah istrinya melahirkan. Selama nebon, kegiatan rumah tangga ditangani suami. Kebiasaan ini dipertahankan dengan tujuan demi melahirkan generasi yang bibit, bebet, dan bobotnya berkualitas, juga kesehatan jasmani dan rohaninya lebih baik.

”Dulu, kalau mau berkunjung ke rumah seorang gadis, meskipun keduanya sama-sama keluarga Bali, sang pemuda harus bisa membacakan isi lontar Pesasakan, yang bahasa pantunnya murni menggunakan bahasa Sasak,” kata Mandia.

Mandia mengakui, tradisi yang sarat kearifan lokal tersebut kini sudah semakin memudar, bahkan menghilang, karena jarang dipraktikkan. Salah satunya, kebiasaan bertukar bahasa antara batur Bali, batur Jawa, dan semeton Sasak. ”Selain menjadi alat berkomunikasi, bahasa juga merupakan alat mempererat hubungan sosial dan alat pemersatu,” ujar Mandia mengakhiri perbincangan. (KHAERUL ANWAR/ COKORDA YUSDISTIRA

 

Lombok di Kompas 6:40 am

Indahnya LOmboku tercinta 

ARUP alias Amaq Rani (39) mungkin bisa disebut sosok yang lahir dari gerakan reformasi yang membuka keran bagi kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat. Warga Dusun Gerupuk, Desa Sengkol, Pujut, Lombok Tengah, NTB, ini mengekspresikan kemerdekaan berpikir dan berpendapatnya selaku "dalang wayang alternatif".

Dalam wayangnya, para tokoh dan kelampan (lakon) berbeda dengan wayang tradisi Sasak Lombok. Setting cerita adalah problema masyarakat di obyek wisata Kute dan Tanjung An. Di kawasan yang bertetangga dengan Dusun Arup itu ribuan penduduk kehilangan tanah. Lahan dibebaskan dengan kekerasan untuk kepentingan pariwisata. Arup pun terpaksa melepas tanahnya seluas 0,50 hektar untuk keperluan yang sama.

Sebagai wujud pembelaan atas nasib rakyat di wilayah itu, Arup menciptakan para tokoh imajiner atau korban yang "diambil" tanahnya oleh perusahaan pengelola kawasan: PT PPL (Pembangunan Pariwisata Lombok) atau LTDC (Lombok Tourism Development Coorporation)-badan usaha bentukan Pemda NTB dan PT Rajawali Wira Bhakti.

Diperkuat 10 anggota, penonton pagelaran wayang Arup dibiarkan ikut berpartisipasi dengan dalang. Ini mirip penonton pertunjukan Lenong Betawi di mana penonton turut berdialog dengan pemain. Bahkan atas perintah penonton, kelampan yang sedang dimainkan Arup-misalnya lakon-lakon wayang tradisi-bisa diganti kelampan lain.

"Penonton sukanya kelampan demo (demonstrasi)," ujar Arup yang hanya mengenyam kelas I sekolah dasar. Kelampan demo, dalam wayang tradisi masuk adegan rerencekan, yang isinya banyolan-banyolan atau pesan pembangunan. Namun, Arup menarik rerencekan ke depan sebagai cerita utama, yang sekaligus kekhususan "wayang alternatif"-nya.

***

KAWASAN Kute dan sekitarnya merupakan daerah wisata di Lombok Tengah. Tahun 1990, PPL dengan masa kontrak 70 tahun (dengan Pemda NTB memegang saham 30 persen) membebaskan tanah guna membangun prasarana dan sarana untuk wisatawan di situ.

Para calo dan broker tanah bermunculan. Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme dari oknum pejabat tingkat I NTB dan tingkat II Lombok Tengah tidak terhindarkan. Apalagi dalam LTDC itu ada saham milik Keluarga Cendana.

Pengalihan hak atas tanah (1.250 hektar) dilakukan secara paksa dan tidak luput dari intervensi pejabat teras. Menolak lahan dibebaskan, berarti harus menghadapi berbagai intimidasi yang dilakukan nyaris semua lini pemerintahan.

Intervensi penguasa itu membuat mereka terpaksa melepas tanah, walau dengan harga pembebasan jauh dari standar. Akibatnya para pemilik tanah, petani rumput laut, dan nelayan tergusur dari lahan tambang nafkahnya. Mereka memang sempat berdemonstrasi ke Kantor Gubernur NTB dan DPRD NTB di Mataram, namun hasilnya sia-sia. Yang terjadi adalah proses pemiskinan, dan itulah setting sosial wayang Arup.

***

KAPAN wayang dikenal di Lombok, belum diketahui pasti. Sumber yang ada sebatas mitologi. Alkisah pada abad XIV-XV, terjadi kemarau panjang selama tujuh tahun. Pohon meranggas, rumput mengering, tanah sawah gersang dan merekah dibakar terik kemarau. Keadaan berubah tatkala muncul seorang lelaki berpakaian serba putih yang dalam mitologi disebut Raden Sangupati, yang kemudian membagi-bagikan obat-obatan pada penduduk.

Itu terjadi setelah penduduk mengucapkan Kalimah Syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Tetapi, dari telusur pustaka, ada pula yang mengatakan, wayang di Lombok konon sudah ada sebelum Sunan Prapen datang menyiarkan Islam tahun 884 Hijriah/1464 M ke sana.

Ilustrasi itu setidaknya menggambarkan bahwa wayang merupakan kesenian rakyat yang telah dikenal luas di Lombok. Sejumlah tulisan menyebut-kan bahwa sumber cerita wayang Sasak dari Serat Menak, yang juga dipakai dalam wayang golek. Sedang wayang Jawa dan Bali umumnya memakai Mahabharata dan Ramayana sebagai sumber cerita.

Lakon wayang Sasak biasanya ber-nuansa Islam, seperti Kelampan Yunan, Bangbangri, Jenglengge, Kabar Sundari, Gendit Birayung, dan lain-lain. Ini diperkuat oleh para tokohnya (wayang kanan) seperti Amir Hamzah atau populer disebut Wong Menak. Di masa lampau, wayang merupakan media dakwah dan hiburan, meski dalam perkembangannya berfungsi sebagai sarana hiburan, penyuluhan. Juga untuk meramaikan hajatan seperti acara sunatan, pesta perkawinan, membayar kaul, dan semacamnya.

Bila penonton wayang Jawa menyaksikan pagelaran dari arah belakang dalang dan grup penabuh, maka penonton wayang sasak berhadapan dengan ranggon (panggung). Bagian depan ranggon terdapat kelir (layar), dan labakan atau lampu.

Jumlah wayang Sasak tidak kurang dari 400 lembar (terbuat dari kulit binatang). Pementasannya diperkuat dua orang pengabih, yang membantu mengambil wayang yang akan dan sudah dimainkan. Ada tujuh penabuh yang memainkan instrumen suling, gendang (lanang-wadon), rincik (alat ritmik), kempul, kenot, dan kajar (sejenis reong).

***

ARUP tidak mesti mengubah total tata cara pertunjukan wayangnya. Walau harus memainkan kelampan demo, ia tetap menyampaikan pengaksema-semacam ucapan perkenalan (pendahuluan), sekaligus mengutarakan kelampan dengan bahasa Jawa Madya.

Dalam pengaksema inilah disampaikan kelampan yang dipilih: wayang tradisi ataukah cerita aktual semacam kelampan demo tadi. Tidak jarang kelampan bisa diganti di tengah jalan. "Saya sedang memainkan kelampan Junglengge, penonton berteriak supaya diganti dengan kelampan demo," ujar Arup. Penonton pun bengak-bengok manakala jalan cerita dinilai kurang pas, dan Arup menanggapinya untuk meluruskan jalan cerita versi penonton.

Dialog demikian tidak ditemukan dalam wayang tradisi, dan di sinilah kekuatan Arup berkesenian. "Wayang adalah media komunikasi antara dalang dan penonton. Bila terjadi komunikasi antarkedua pihak, maka pesan yang disampaikan dalang nyambung dengan khalayak penonton. Adanya dialog inilah satu wujud berkesenian," Ida Wayan Pasha, pemerhati Budaya Sasak Lombok, mengomentari kiprah Arup.

Penampilan grup wayang Arup dan kawan-kawan terkesan memprihatinkan. Kenot dan kajar bukanlah terbuat dari bahan kuningan dan logam, melainkan hanya sebuah piring makan berbahan seng yang tiap kali pentas bisa dipinjam pada tuan rumah (pengundang).

Kempol (gong)-nya terbuat dari bagian penutup drum bekas, yang dipakai buruh tani merontokkan padi (ngerampek). Wayangnya, yang berjumlah sekitar 70 lembar berupa kardus dan bungkus (pak) rokok dibuat dan disunggingnya sendiri dengan pisau yang biasa digunakan meraut bambu. Wayang itu lalu dicat agar menjadi keras.

Arup agak lega karena telah memiliki kelir cukup bagus sumbangan sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat. Kelir yang digunakan semula adalah kain sprei layak pakai yang beberapa bagiannya harus ditambal karena sudah bolong.

Selain tokoh-tokoh wayang tradisi, Arup juga memiliki tokoh imajiner yang dibuatnya sendiri seperti tokoh Gubernur NTB, Ketua DPRD NTB, Ketua BP7, kelompok demonstran, sosok polisi, tentara, Kantor Gubernur NTB dan DPRD NTB, para tokoh LSM, di samping Inaq Maryam, Inaq Janum, Amaq Mai, dan sejenisnya.

Arup, ayah seorang anak ini, agaknya tanpa disadari tampil sebagai "pembaru" dalam seni pewayangan Sasak Lombok. Bukan saja karena dia termasuk korban dari proses marginalisasi, melainkan juga idealismenya yang mendorongnya berontak. Darah seni membuatnya lebih peka melihat proses peminggiran rakyat akibat pembangunan.

Arup yang nyaris buta huruf latin, tidak bisa menulis-membaca huruf Jejawan (turunan Hanacaraka), dan dengan peralatan serba amat sederhana, bisa berbuat sesuatu bagi kesenian. (Khaerul Anwar)

 

Lombok di Kompas 6:38 am

Sebuah rumah di senaru 

RUMAH bukan sekadar tempat hunian yang multifungsi, melainkan juga punya nilai estetika dan pesan-pesan filosofi bagi penghuninya, baik arsitektur maupun tata ruangnya.

ITU terlihat pada rumah tradisional suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, seperti di Dusun Limbungan, Desa Perigi, Kecamatan Suwela, Lombok Timur; Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah; dan Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Barat.

Memang fungsi dan bentuk fisiknya, rumah tradisional itu ada yang berubah dan berbeda, sejalan dengan bertambahnya jumlah penghuni maupun tergantung risiko (kondisi keamanan, geografis, dan topografis) di masing-masing dusun. Namun konsep pembangunannya: arsitektur, tata ruang, dan pola tampaknya merujuk tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya.

Pola hunian di tiga dusun itu mengompleks meski lokasinya di tempat datar, seperti Dusun Segenter, atau dataran tinggi sebagaimana di Dusun Limbungan dan Dusun Sade. Sedangkan bangunan yang ada meliputi bale (rumah), berugak (bale-bale bertiang empat disebut sekepat atau bertiang enam atau sekenem), lumbung dan kandang (bare) ternak. Bangunan-bangunan itu mengikuti kontur tanah, khusus bangunan rumah seluas 7 x 6 meter (dihitung dari luar) dan 6 x 5 meter (dihitung dari dalam) per unit.

Bagian rumah terdiri atas atap yang umumnya berbentuk gunungan, menukik ke bawah jarak 1,5-2 meter dari permukaan tanah (fondasi). Atap dan bubungan (bungus)-nya adalah alang-alang yang umumnya menghadap Gunung Rinjani dan berdinding anyaman bambu (kampu). Ruangannya (rong) dibagi menjadi inan bale (ruang induk meliputi bale luar (ruang tidur) dan bale dalem berupa tempat menyimpan harta benda, ruang ibu melahirkan sekaligus ruang disemayamkannya jenazah bila ada penghuninya sebelum dimakamkan.

Ruangan bale dalem dilengkapi amben dan dapur, sempare (tempat menyimpan makanan, peralatan rumah tangga lainnya) terbuat dari bambu ukuran 2 x 2 meter persegi atau bisa empat persegi panjang. Kemudian ada sesangkok (ruang tamu) dan pintu masuk dengan sistem sorong (geser). Di antara bale luar dan bale dalem ada pintu dan tangga (tiga anak tangga) tanpa jendela. Lantai rumah umumnya tanah yang dicampur dengan kotoran kuda, getah, dan abu jerami, seperti terlihat di Dusun Sade dan Limbungan.

Kompleks perumahan itu tampak teratur seperti ada "pagar hidup" yang membatasi kompleks tempat tinggal itu, jalan tanah dan berugak di mana tiap rumah diapit dua rumah. Penataan itu selain tampak demikian teratur yang seakan menggambarkan kehidupan harmoni penduduk, juga sama dengan pola hunian modern dewasa ini.

Bentuk rumah tradisional Lombok berkembang saat pemerintahan Kerajaan Karang Asem (abad 17), di mana arsitektur Lombok dikawinkan dengan arsitektur Bali. Misalnya, ruang tamunya terbuka tanpa dinding, tiang penyangga bangunan bagian atas diberi ukiran.

Malah dalam waktu 15 tahun terakhir ini, arsitektur Lombok dijadikan pelengkap pada bangunan perkantoran dinas/instansi di Mataram. Lumbung dibangun di bagian depan atau pintu keluar-masuk kantor. Materi bangunannya disesuaikan dengan bahan bangunan kantor berupa semen, pasir, dan genteng. Tujuan pendirian lumbung adalah menunjukkan kekhasan dan pelestarian kebudayaan fisik, terutama di Pulau Lombok.

SEPERTI disinggung di atas, selain tempat berlindung, rumah juga memiliki nilai estetika, filosofi, dan kehidupan sederhana para penduduk di masa lampau yang mengandalkan sumber daya alam sebagai tambang nafkah harian, sekaligus sebagai bahan pembangunan rumah. Lantai rumah itu adalah campuran dari tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran sapi di bagian permukaan lantai.

Materi membuat lantai rumah itu berfungsi sebagai zat perekat, juga guna menghindari lantai tidak lembab. Bahan lantai itu digunakan, oleh warga di Dusun Sade, mengingat kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang merupakan jenis tanah di dusun itu.

Arsitektur rumah warga di tiga dusun itu relatif mirip, yang agak berbeda mungkin fungsi ruangannya. Hanya rong dalam rumah di Dusun Segenter lekat tradisi wetu telu-nya. Misalnya, di inan bale, kecuali menyimpan beras dalam gentong (temberasan/kemeras), barang berharga lainnya, juga tempat menyimpan nenoq (sesaji bagi arwah leluhur dan roh penghuni rumah), dan saat tertentu dijadikan tempat pemujaan/meditasi keluarga.

Rumah tinggal di Dusun Segenter dibangun dengan asas cermin, (pintu rumah yang satu dengan rumah di depannya saling berhadapan dan diselingi sebuah berugak di tengahnya), bukan saling membelakangi seperti rumah di Dusun Limbongan maupun di Dusun Sade yang arahnya ada yang berhadapan, ada pula yang saling membelakangi.

Pemilihan lokasi permukiman itu terkait dengan pola bercocok tanam khas masyarakat agraris, kata M Yamin, pemerhati budaya Sasak, Lombok. Mereka memerlukan air untuk irigasi maupun kegiatan rumah tangga yang biasanya jadi sumber mata air, umumnya berada di dataran tinggi.

Gunung yang dekat dengan hutan memudahkan mereka mendapat sumber makanan tiap hari. Mungkin juga ada kaitannya dengan kepercayaan tradisional bahwa gunung dan dataran tinggi menjadikan "hubungan komunikasi" manusia dengan Sang Pencipta "lebih dekat".

Karena letaknya di dataran tinggi, seperti Dusun Segenter dan Dusun Limbungan, fungsi dapur juga sebagai penghangat, sedangkan penerangan pada siang hari hanya dengan sinar matahari yang menyelinap dari balik pagar, yang juga berfungsi sebagai sirkulasi udara, untuk keamanan bila ada serangan binatang buas dan memantau orang yang bermaksud jahat terhadap tuan rumah.

Konstruksi rumah tradisional Sasak agaknya terkait pula dengan perspektif Islam. Anak tangga sebanyak tiga buah tadi adalah simbol daur hidup manusia: lahir, berkembang, dan mati, simbol keluarga batih (ayah, ibu, dan anak), atau berugak bertiang empat simbol syariat Islam: Quran, Hadis, Ijma’, Qiyas).

Anak yang yunior dan senior dalam usia ditentukan lokasi rumahnya. Rumah orangtua berada di tingkat paling tinggi, disusul anak sulung dan anak bungsu berada di tingkat paling bawah. Ini sebuah ajaran budi pekerti bahwa kakak dalam bersikap dan berperilaku hendaknya menjadi panutan sang adik.

Rumah yang menghadap timur secara simbolis bermakna bahwa yang tua lebih dulu menerima/menikmati kehangatan matahari pagi ketimbang yang muda yang secara fisik lebih kuat. Juga bisa berarti, begitu keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah, manusia berharap mendapat rida Allah di antaranya melalui shalat, dan hal itu sudah diingatkan bahwa pintu rumahnya menghadap timur atau berlawanan dengan arah matahari terbenam (barat/kiblat). Tamu pun harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang relatif pendek. Mungkin posisi membungkuk itu secara tidak langsung mengisyaratkan sebuah etika atau wujud penghormatan kepada tuan rumah dari sang tamu.

Kemudian lumbung, kecuali mengajarkan warganya untuk hidup hemat dan tidak boros sebab stok logistik yang disimpan di dalamnya, hanya bisa diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan. Bahan logistik (padi dan palawija) itu tidak boleh dikuras habis, melainkan disisakan untuk keperluan mendadak, umpamanya guna mengantisipasi gagal panen akibat cuaca dan serangan binatang yang merusak tanaman atau bahan untuk mengadakan syukuran jika ada salah satu anggota keluarga meninggal.

Berugak yang ada di depan rumah, di samping merupakan penghormatan terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, juga berfungsi sebagai ruang keluarga, menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. Misalnya, "Kalau sampai pukul sembilan pagi masih ada yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit," tutur Amak Yani, warga Dusun Limbungan Timur.

Sejak proses perencanaan rumah didirikan, peran perempuan atau istri diutamakan. Umpamanya, jarak usuk bambu rangka atap selebar kepala istri, tinggi penyimpanan alat dapur (sempare) harus bisa dicapai lengan istri, bahkan lebar pintu rumah seukuran tubuh istri. Membangun dan merehabilitasi rumah dilakukan secara gotong-royong meski makan-minum, berikut bahan bangunan, disediakan tuan rumah.

Dipertahankannya bahan konstruksi dan bentuk rumah itu merupakan ketentuan yang tidak bisa ditawar-tawar. Karenanya yang tinggal dalam kampu mematuhi ketentuan itu, tetapi memilih lokasi agak jauh dari rumah orangtuanya. Pertimbangannya, "Khawatir, jangan sampai ibu saya ngomong biasa misalnya, lalu didengar dan salah dimengerti oleh istri saya, membuat hubungan kami dengan orangtua jadi keruh," ucap Suparman, Kepala Dusun Limbungan. (KHAERUL ANWAR)

Lombok di Kompas 6:11 am



Amaq RayeLANGKAH Amaq Raya terhenti, matanya tertuju ke perilaku seekor burung gagak yang sedang mandi di kali. Dari gerakan kaki, kepak sayap, sampai posisi tubuh unggas itu mau terbang, terekam dalam benak Amaq Raya.

"Setelah gagak terbang, giliran saya yang mandi," kata warga Dusun Dasan Baru, Desa Lenek Daya, Lombok Timur, Nusatenggara Barat, itu berkelakar. Selang beberapa hari, gerakan burung gagak tersebut disimbolisasikan lewat tarian Gagak Mandi.

Isi jagat raya memang tidak pernah habis dirambah para seniman dalam proses kreatifnya. Begitu juga Amaq Raya, satu dari sedikit seniman pencipta tari dan gending, sekaligus seniman tabuh di Lombok, yang gagasannya bersumber dari alam.

Karya tarinya merupakan perpaduan wiraga (gerak raga) dan wirasa (gerak jiwa), yang tidak semua penari mampu menangkapnya. "Wiraga-nya bisa ditiru, tetapi wirasa-nya belum tentu. Padahal wiraga dan wirasa adalah energi sebuah tarian," komentar Lalu Makbul Said, pemerhati seni tari dan tabuh Lombok atas karya Amaq Raya.

"Amaq Raya mungkin satu-satunya yang menguasai roh tari gandrung Lombok," kata IN Argawe, Filolog Museum Negeri NTB.

***

GAGAK Mandi, satu dari karya yang masih diingatnya, selain tari Kembang Jagung dan Semar Geger. Kembang Jagung, idenya muncul sewaktu Bung Karno datang di Ampenan, kini Kodya Mataram. Saat itu, sekitar tahun 1958, Presiden RI pertama itu menghadiri acara bertema ‘’Persahabatan Indonesia-Tiongkok,'’ dan Amaq Raya bersama kelompoknya mendapat kesempatan pentas. "Saya dengar suara piano mengiringi penyanyi," ujarnya.

Maka sepulang dari situ, Amaq Raya bersama para penabuh, tidak tidur semalaman. Mereka menggarap gending pengiring tarian, sampai akhirnya menemukan gending yang cocok buat Kembang Jagung. Tarian muda-mudi itu diiringi gending tradisional dengan sisipan irama piano dalam interlude lagu. Sedang Semar Geger adalah gending reramputan (gado-gado), yang melukiskan keriangan muda-mudi menyambut panen. Nama semar bukan berarti tokoh wayang Jawa, melainkan padanan kata sembarang.

Pemahamannya tentang sejarah, diwujudkan lewat seni tembang (pepaosan) Pemban Selaparang, diciptakan tahun 1970, mengisahkan suka-cita rakyat Kerajaan Selaparang yang pernah berjaya di Lombok Timur tempo dulu.

Rahayu ing kawula da. Inggih pemban Selaparang. Purwasila dana dharma. Inggih pemban Selaparang. Rahayu ing adat gama. Inggih pemban Selaparang. Purwa Urip makmur ia.

(Rakyat hidup tenteram dan damai. Itulah kerajaan Selaparang. Adanya kemakmuran dan aturan. Itulah kerajaan Selaparang. Hidup selamat adat dan agama. Itulah kerajaan Selaparang. Kehidupan yang makmur sentosa).

Oleh karena buta huruf, syair lagu itu digubah oleh Bapa Rahil (almarhum), seniman tradisi terkemuka di Lombok Timur. Lagu ini sangat akrab di telinga masyarakat di Lombok, dan sering disenandungkan sambil menari oleh para penabuh Gamelan Beleq.

Namun, dalam Ensiklopedi Musik dan Tari Nusatenggara Barat, Pemban Selaparang tidak disebutkan penciptanya (NN). Toh Amaq Raya tidak mau pusing dengan hal ini, mungkin karena sikapnya yang lugu, nrimo dan ketidaktahuannya ke mana harus menggugatnya.

"Be alur bae uah, (Biarkan sajalah)."

Ia sudah sangat puas, bila karyanya disenandungkan orang lain.

***

SIKAPNYA yang total pada kesenian, membuat Amaq Raya hampir tidak pernah menolak tawaran pentas di berbagai desa maupun ke luar daerah. Instansi terkait juga memanfaatkannya selaku pemandu bagi pemula yang disiapkan mengikuti pentas berskala nasional.

Hanya saja dia acapkali kecewa, karena gerakan para penari-termasuk yang mengklaim diri koreografer-tidak pernah pas. Akibatnya tarian kehilangan wiraga dan wirasa. Terhadap hal ini, Amaq Raya cuma bisa bergumam, "Be gedek ite (kesal juga saya)." Dia lalu menirukan para penari yang asal menggerakkan tubuh. Misalnya, gerakan surut udang dalam tari gandrung, di mana kaki kiri-kanan bergerak ke belakang setengah melingkar, diperagakan seakan berjalan mundur biasa.

Menurut dia, gerak kaki dalam tari gandrung Lombok terangkat sekitar dua sentimeter-ciri khas gerak tari Sasak. Beda dengan tari Gandrung Bali yang penarinya mengangkat kaki ke depan, maupun Gandrung Banyuwangi yang kaki penarinya diangkat ke belakang.

Untuk meyakinkan cara menari yang benar, Amaq Raya pun bangkit dari duduknya, memperagakan tari Gagak Mandi. Lengan dan tangannya bergetar dan bergerak ke depan, badannya doyong dan meliuk-liuk ke belakang, semakin lama dia merunduk, lantas setengah berjingkrak dia pun duduk jongkok (nyengkeng).

Sekujur tubuhnya yang bergetar, menggambarkan gerak gagak terbang (ngindang) dan bekerap (membersihkan badan dari percikan air), yang diperagakannya dengan gerak yang nyaris sempurna.

***

KETERAMPILAN mencipta tari dan gending didapat dari ayahnya yang juga seniman kondang di desanya. Namun, guru yang sekaligus mengasah bakat alam Amaq Raya adalah Amaq Tahim. Lingkungan Desa Lenek yang dikenal gudang seniman tradisi, turut menempanya jadi seniman.

Melihat kemampuan para penari dewasa kini, Amaq Raya-ayah enam anak-memilih melatih anaknya, Yuliani (kelas III SD). Kepada anaknya ini ia berharap, bisa memiliki wiraga dan wirasa bila menari, bukan sekadar berlenggang-lenggok. Anaknya yang lain, Zaenal (16), lebih senang bermain gamelan.

Meski kegiatannya mencipta mulai surut, namun kepeduliannya terhadap seni terus membara. Hampir pasti Amaq Raya mendampingi seniman muda menghadiri undangan hajatan, entah sebagai pemandu rekan-rekannya, maupun selaku sekaha (penabuh) karena memang dia serba bisa memainkan beragam instrumen musik tradisi.

Bisa jadi, kegiatan itu memang diperlukannya untuk menambah penghasilan. Rumahnya masih berdinding gedek, berlantai tanah tanpa jendela, dan hanya ada satu pintu. Ruangan tamu rumahnya pengap dan gelap walau siang hari.

Menuju dusun berjarak sekitar 5 kilometer utara Desa Lenek itu, kemiskinan dan kekumuhan memang tampak setelah melewati jalan aspal. Pohon merangas dibakar terik kemarau, dan debu jalan tanah berhamburan. "Makanya tiang (saya) malu bila pelinggih (Anda) ke sini," ujarnya.

Istrinya lalu mengeluarkan tikar pandan dan menggelarnya di halaman rumahnya yang dipakai untuk bengkel kerjanya. Ia menyambung hidup dengan membuat batu bata.

Tiap 1.000 biji batu bata mentah, Amaq Raya mendapat upah
Rp 25.000. Sedang dari hasil berpentas ke berbagai pelosok desa ia dapat Rp 100.000-Rp 150.000 semalam. Hasil ini dibagi enam anggota kelompok kesenian gandrung.

Beragam sertifikat penghargaannya-yang katanya, "Entah di mana tempatnya, saya juga tidak bisa baca"-memang tidak banyak mengangkat kehidupannya. Walau begitu, ada saja yang tega mengobyekkan hidupnya yang jauh dari cukup.

Katanya, ada petugas mau mengusulkan agar dia mendapat sejumlah bantuan, asalkan menyediakan biaya administrasi Rp 10.000. "Saya tidak punya uang, bisa makan sehari saja sudah untung." (Khaerul Anwar)

 

Lombok di Kompas 4:09 am

Penganut waktu telu di belahan bukit dekat Rinjani 

istilah islam wetu telu adalah istilah yang dipakai karena penyebaran ajaran Islam yang tidak sempurna pada beberpa daerah di Pulau Lombok, contohnya Bayan (Kab. Lobar). dalam wetu telu hanya dipercaya ada 3 (telu) rukun islam, yaitu membaca 2 kalimat syahadat, sholat 5 waktu dan berpuasa. Bahkan beberapa sumber mengatakan sholat 5 waktu itu hanya dikerjakan 3 waktu (subuh, zuhur dan isya). namun seiring dengan perkembangan zaman penganut islam waktu telu itu kini jarang dijumpai atau bahkan sudah tidak ada lagi karena pendakwahan di daerah - daerah yang bersangkutan tersebut bisa dikatakan berhasil.

Lombok di Kompas 3:29 am

Rinjani memerah

Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl serta terletak pada lintang 8º25′ LS dan 116º28′ BT ini merupakan gunung favorit bagi pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas sekitar 41.330 ha dan ini akan diusulkan penambahannya sehingga menjadi 76.000 ha ke arah barat dan timur.

Secara administratif gunung ini berada dibawah tiga kabupaten yaitu: Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m x 4.800 m, memanjang kearah timur anda barat. Di kaldera ini terdapat danau Segara Anakan seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Danau Segara Anak ini banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut "Segara Anak". Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut, dan disebelah timurnya terdapat gunung Baru yang oleh bahasa setempat disebut dengan Gunung Baru Jari. yang memiliki kawah seluas 170 x 200 m dengan ketinggian 2.296 - 2376 m dpl. Pada tahun 1994 gunung Baru Jari ini meletus dan memuntahkan isi perutnya di sekitar danau Segara Anakan.

 

Geografi

Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 m dpl, mendomonasi sebagian besar luas pulau Lombok. Terletak disebelah timur pulau Bali, dapat ditempuh dengan bus langsung Jakarta-Mataram dengan menyeberang menggunakan feri dua kali (selat bali dan selat lombok). Dapat juga ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya dan Bali.

Pendakian

Rinjani saat meletus pada tahun 1994
Perbesar
Rinjani saat meletus pada tahun 1994

Rinjani memiliki panaroma yang bisa dibilang paling bagus di antara gunung-gunung di Indonesia. Setiap tahunnya (Juni-Agustus) banyak dikunjungi pencinta alam mulai dari Penduduk lokal, mahasiswa, pecinta alam. Suhu udara rata-rata sekitar 20°C; terendah 12°C. Angin kencang di puncak biasa terjadi di bulan Agustus. Beruntung akhir Juli ini, angin masih cukup lemah dan cuaca cukup cerah, sehingga summit attack bisa dilakukan kapan saja.

Selain puncak, tempat yang sering dikunjungi adalah Segara Anakan, sebuah danau kawah di ketinggian 2.000 mdpl. Untuk mencapai lokasi ini kita bisa mendaki dari desa Senaru atau desa Sembalun Lawang (dua entry point terdekat di ketinggian 500 mdpl dan 1.200 mdpl). Kebanyakan pendaki menyukai start entry dari arah Sembalun, karena bisa menghemat 700m ketinggian. Rute Sembalun agak panjang tetapi datar, dan cuaca lebih panas karena melalui padang savana yang terik (suhu dingin tetapi radiasi matahari langsung membakar kulit). Sunblok krem sangat dianjurkan.

Sedangkan dari arah Senaru tanjakan tanpa jeda, tetapi cuaca lembut krn melalui hutan. Dari kedua lokasi ini membutuhkan waktu jalan kaki sekitar 9 jam menuju bibir punggungan di ketinggian 2.700 mdpl (tiba di Plawangan Senaru ataupun Plawangan Sembalun). Di tempat ini pemandangan ke arah danau, maupun ke arah luar sangat bagus. Dari Plawangan Senaru (jika naik dari arah Senaru) turun ke danau melalui dinding curam ke ketinggian 2.000 mdpl) yang bisa ditempuh dalam 2 jam. Di danau kita bisa berkemah, mancing (Carper, Mujair) yang banyak sekali. Penduduk Lombok mempunyai tradisi berkunjung ke segara anakan utk berendam di kolam air panas dan mancing.

Untuk mencapai puncak (dari arah Danau) harus berjalan kaki mendaki dinding sebelah barat setinggi 700m dan menaiki punggungan setinggi 1.000m yang ditempuh dlm 2 tahap 3 jam dan 4 jam. Tahap pertama menuju Plawangan Sembalun, camp terakhir untuk menunggu pagi hari. Summit attack biasa dilakukan pada jam 3 dinihari untuk mencari momen indah - matahari terbit di puncak Rinjani. Perjalanan menuju Puncak tergolong lumayan; karena meniti di bibir kawah dengan margin safety yang pas-pasan. Medan pasir, batu, tanah. 200 meter ketinggian terakhir harus ditempuh dengan susah payah, karena satu langkah maju diikuti setengah langkah turun (terperosok batuan kerikil). Buat highlander - ini tempat yang paling menantang dan disukai karena beratnya medan terbayar dgn pemandangan alamnya yang indah. Gunung Agung di Bali, Gunung Ijen-Merapi di Banyuwangi dan Gunung Tambora di Sumbawa terlihat jelas saat cuaca bagus di pagi hari. Untuk mendaki Rinjani tidak diperlukan alat bantu, cukup stamina, kesabaran dan "passion".

Keseluruhan perjalanan dapat dicapai dalam program tiga hari dua malam, atau jika hendak melihat dua objek lain: Gua Susu dan gunung Baru Jaro (kawah baru di tengah danau) perlu tambahan waktu dua hari perjalanan. Persiapan logistik sangat diperlukan, tetapi untungnya segala sesuatu bisa diperoleh di desa terdekat. Tenda, sleeping bag, peralatan makan, bahan makanan dan apa saja yang diperlukan (termasuk radio komunikasi) bisa disewa dari homestay-homestay yang menjamur di desa Senaru.